Jumat, 19 Desember 2025

Resensi Buku: SERVANT LEADERSHIP POLRI DAN BUDAYA YANG MEMPENGARUHINYA



DESKRIPSI BUKU

Judul                       :    Servant Leadership Polri Dan Budaya Yang Mempengaruhinya

Penulis                    :    Dr. I Gede Nyoman Bratasena, S.I.K., M.I.K.

Penerbit                  :    Deepublish

Tahun Terbit            :    2022

Kota terbit               :    Yogyakarta

Jumlah Halaman    :    ±174 halaman

Ukuran buku           :    A5

ISBN                      :    978-623-02-4977-8

Jenis Buku             :    Ilmiah

 

Buku ini lahir dari hasil penelitian dan karya akademik berupa Disertasi penulis dalam Program Studi Doktor Ilmu Kepolisian di STIK. Secara khusus, buku ini mengkaji konsep kepemimpinan melayani (Servant Leadership) dalam konteks organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), termasuk berbagai dimensi budaya yang memengaruhi penerapan dan efektivitas kepemimpinan tersebut. Buku hadir dari kegelisahan penulis (yang tergambar dikata pengantar) terhadap kepuasan pelayanan yang diberikan Polri kepada masyarakat sebagai “pelanggannya”. Kepuasan pelanggan ini lahir dari pelayanan yang memiliki nilai, sedangkan pelayanan yang memiliki nilai sepenuh hati dapat terwujud dengan pelayanan organisasi terhadapnya, serta pelayanan organisasi bertergantung pada kepemimpinan. Isu Utama Isu sentral yang penulis bahas dalam buku ini bahwa hambatan terbesar Polri untuk menjadi institusi yang dicintai adalah sisa-sisa karena budaya lama yang menghambat munculnya karakter "pelayan".

Selain itu, dalam buku ini melihat bagaimana menyelaraskan teori kepemimpinan (khususnya Servant Leadership) dengan karakteristik Polri agar tidak hanya menjadi teori yang mengambang tetapi dapat digunakan sesuai harapan organisasi. Kegelisahan itu dikuatkan dengan hasil penelitian penulis pada tahun 2016 yang memperlihatkan persentase besar pada pola piker otoriter yang menunjukan bahwa pemimpin perwira polri masih cenderung menempatkan anggota sebagai objek dalam organisasi yang hanya perlu manajemen dan diawasi untuk mencapai tujuan organisasi. Keunikan buku ini terletak pada upaya penulis untuk tidak sekadar mengadopsi teori kepemimpinan Barat secara mentah tentang teori filosofis kepemimpinan Serven Leadership, melainkan mengontekskannya dengan karakter, struktur, dan budaya kepemimpinan jawa yang tertuang dalam asta brata yang sejalan dengan nilai Tri Brata. Yang kemudian diterapkan dalam organisasi Polri untuk melahirkan suatu kontruksi Servant leadership Polri dan dimensi budaya yang mempengaruhinya. Tujuan buku ini adalah menyediakan arah dan cara belajar bagi para perwira Polri untuk mengubah gaya kepemimpinan mereka menuju Serven Leadership. Buku ini menjelaskan mengenai sejarah Serven Leadership, serta proses membentuk Serven Leadership Polri yang diharapkan dapat mengakomodir keluhan-keluhan anggota Polri. Penulis berharap buku ini mampu mengantarkan perspektif baru yang memiliki daya momentum bagi polri untuk mewujudkan tujuan organisasi.

 

Isi Buku Secara Ringkas

Dibagian pendahuluan awal dari buku ini, menjelaskan bahwa kepemipinan sebagai salah satu bagian dari fungsi manajemen yang memegang peranan penting dalam menjamin tujuan organisasi. Teori yang service profit chain menggambarkan bahwa tercapainya tujuan organisasi pada hakikatnya diawali dari kepuasan karyawan atas pelayanan internal yang mereka terima, pelayanan internal ini bergantung kepada pemimpin. Selain itu, dibagian awal buku ini juga menjelaskan tentang filosofi Servant Leadership dari Greenlaf yang mengatakan bahwa kepemimpinan berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi pihak pertama yang melayani. Pilihan yang berasal dari suara hati tersebut kemudian menghadirkan Hasrat untuk menjadi pemimpin. Penerapan Servant Leadership pada Polri sudah diatur dalam Peraturan Kapolri No.14 Tahun 2011, tentang Kode Etik Profesi Polri dalam pasal 7 ayat 2 huruf a.

Selanjutnya, masih dibagian awal buku ini, penulis memaparkan tentang teori Servant Leadership yang digunakan untuk membangun instrument Kesehatan organisasi (Organization Leadership Assesment (OLA)), yang mana dalam penerapan Servant Leadership dapat membawa kesehatan organisasi ketingkat paling tinggi (level 6, Optimal health) dengan kata lain ciri organisasi dengan Kesehatan yang optimal adalah memiliki pola pikir melayani dengan memperlakukan anggota sebagai mitra kerja. Selain itu, penulis telah melakukan penelitian tahun 2019 dengan menggunakan instrument OLA pada Polri, yang mengahsilkan hasil penelitian dengan nilai organisasi Polri sebesar 3,45 (masuk kategori negative Paternalistic) artinya limited helath – Kesehatan organisasi level 3.

Masuk dalam tahap bab pembahasan awal, buku ini menjelaskan secara gamblang tentang Servant Leadership. Pembahasan bab awal ini dimuali dengan menjelaskan apa itu pemimpin, pendekatan dalam kepemipinan (trait theories, contingency theories, contemporary theories & responsible leadership). Kemudian, masih di bab awal ini penulis menjelaskan tentang apa itu Servant Leadership, yaitu seorang Servant Leader adalah pelayan utama yang diawali dari perasaan alami untuk ingin melayani pertama kali. Kemudian pilihan sadar membawa orang untuk bercita-cita memimpin. Perasaan alami ini memanifestasikan dirinya dalam sikap kepedulian terlebih dahulu untuk memastikan bahwa prioritas kebutuhan tertinggi adalah melayani orang lain. Secara konseptual Servant Leadership lebih mengutamakan kebutuhan atau kepentingan karyawan dan lebih beroreintasi terhadap pengikut bila dibandingkan dengan transformational leadership dan ethical leadership. Servant Leadership menempatkan pimpinan tertinggi pada suatu organisasi pada titik terendah yang berperan sebagai tonggak atau landasan bagi para anggota-anggotanya (struktur bangun segitiga terbalik), yang menggambarkan bahwa beban terberat akan dialami oleh posisi pimpinan tertinggi dalam suatu organisasi.

Tahap selanjutnya dalam buku ini, mencoba mengkontruksi Servant Leadership Polri. Mulai dari pertanyaan bagaimana membentuk Servant Leadership Polri? Pada tahap ini penulis dalam penelitiannya melakukan kontruksi Servant Leadership yang dibutuhkan Polri dengan beberapa tahap. Mulai dari melakukan sinkronisasi nilai kepemimpinan Asta Brata dengan dimensi Servant Leadership, melakukan analisis dimensi Servant Leadership dengan piranti lunak atau peraturan pada organisasi Polri, melakukan analisis dimensi Servant Leadership dengan keluhan dan harapan anggota Polri terhadap karakteristik pemimpin Polri yang ideal, sampai menetapkan dimensi servant leadership Polri yang terdiri dari: integritas (integrity), melayani (stewardship), mendengarkan (listening), kesadaran (awareness), mengembangkan orang lain (develop others), konseptual (conceptualization), persuasive (persuasion), dan Tinjauan ke masa depan (foresight).

Setelah tahap Panjang dalam mengkontruksikan Servant Leadership untuk Polri, penulis kemudian membahas lebih dalam tentang pengaruh budaya terhadap Servant Leadership Polri. Secara umum kepemimpinan/Leadership dipengaruhi oleh kepribadian dan daya kognitifnya, tetapi yang kemudian ditambahkan bahwa budaya juga mempengaruhi Servant Leadership. Dalam buku ini terdapat enam dimensi budaya menurut Hofstede yang dapat dikaitan dalam pengaruhnya terhadap Servant Leadership, yaitu: High vs Low Power Distance, High vs Low Uncertainty Avoidance, Individualism vs Collectivism, Masculinity vs Femininity, Long vs Short Term Orientation, Dan Indulgence vs Restraint. Selanjutnya dari hasil riset penulis menyimpulan bahwa budaya yang menguatkan Servant Leadership pada perwira Polri jika diurutkan berdasarkan pengaruhnya yang paling kuat adalah: Indulgence, Low Uncertainty Avoidance, Long Term Orientation, Collectivism, dan Low Power Distance.

Dibagian terakhir dalam buku ini, penulis menjelaskan tentang membangun Servant Leadership pada perwira Polri, yang diterapkan oleh seluruh jenjang kepangkatan perwira mulai IPDA sampai Jenderal Polisi. Dalam kerangka keterampilan manajemen, terdapat tiga pembagian kelompok manager dengan tiga komposisi skill, yaitu: Perwira tinggi (Top management) yang memiliki conceptual skill yang besar dan technical skill yang lebih sedikit, Perwira menengah (Middle Management) dengan conceptual skill dan technical skill yang seimbang, dan Perwira pertama (First-line management) yang memiliki conceptual skill lebih kecil dan technical skill yang besar, sedangkan untuk human skill memiliki komposisi yang dinamis pada ketiga tingkatan manajemen. Sebagai penutup dibagian akhir buku ini,penulis mengajukan delapan rekomendasi yang berkaitan dengan kontribusi baru Servant Leadership Polri dan Budaya yang mempengaruhinya, yaitu: membentuk doktrin baru perwira polri, Evaluasi proses membentuk sikap menghormati senior, bersenang-senanglah!, Lindungilah anggota, berikan ruang bagi anggota untuk menilai pimpinan, kaji Kembali standar-standar kinerja Perwira Polri, evaluasi penerapan Servant Leadership secara berkala, dan yang terakhir Mulailah dari diri sendiri.

 

URAIAN TENTANG SERVANT LEADERSHIP POLRI

Dapat dikatakan bahwa pikiran pokok dalam buku ini adalah bagaimana penulis menjelaskan tentang Servant Leadership Polri untuk dapat diaplikasikan pada tugas seorang perwira. Servant Leadership Polri adalah kepemimpinan yang menunjukkan integritas dan keteladanan, dengan beroreintasi terhadap anggota melalui proses melayani, mendengarkan, dan mengembangkan, untuk mengajak mereka mewujudkan tujuan organisasi dengan pola piker konseptual dan tujuan ke masa depan. Penulis kemudian mengurai tiap-tiap dimensi beserta indikator yang membentuknya kemudian dipadukan dengan harapan anggota Polri sesuai penelitian penulis, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

 

1.       Integritas (Integrity)

Integritas (Integrity) adalah dimensi tertinggi yang sangat diharapkan oleh anggota Polri dari Perwiranya. Mereka berharap agar para pemimpin dapat lebih terbuka dan lebih transparan. Sering menjadi keluhan anggota Polri tentang pemimpin yang sering menasehati bahkan memberi teguran sementara dirinya sendiri melanggar hal yang diucapkan. Rasa hormat akan hilang ketika seseorang pemimpin mengingingkari apa yang ia nesihatkan kepada anggotanya. Maka, sebagai salah satu dari indicator dari dimensi Integritas (Integrity), seorang Servant Leader wajib melaksanakan apa yang ia ucapkan. Para Servant Leaders memperlihatkan kejujuran dan transparansi melalui ucapan dan tindakan mereka. Mereka rendah hati, terbuka, dan bertanggung jawab kepada orang lain termasuk orang-orang di bawah mereka dalam organisasi. Mereka bersedia untuk belajar dari semua orang dan mereka menunjukkan integritas yang dalam dan konsisten yang menarik orang ke arah mereka, kepercayaan mereka, dan perilaku etis.

 

2.       Melayani (Stewardship)

Dimensi ini berada di urutan kedua dalam harapan anggota Polri terhadap pimpinannya. Penulis melihat ada sedikit komplikasi antara dimensi melayani (stewardship) dengan dimensi budaya power distance, apabila keliru dalam memahami makna "melayani". Seorang servant leader tidak akan terbuai dengan pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh anggota di tengah budaya high power distance. Dirinya akan tetap memikirkan apa yang dibutuhkan oleh para anak buahnya, lepas dari dirinya diberi pelayanan maupun tidak diberi pelayanan. Seorang Servant Leader haruslah mempunyai keinginan untuk melayani dan terutama komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain. Ini juga menekankan pada pentingnya aspek keterbukaan dan memengaruhi, bukannya pengendalian (controlling). Servant Leader berusaha dengan segenap upaya untuk mengarahkan agar semua yang ada dalam organisasi memainkan peranan penting dalam menjalankan organisasi tersebut dengan mengarah kepada kebaikan masyarakat yang lebih besar. Ini merupakan dimensi kunci dari Servant Leadership, yaitu keinginan untuk melayani. Menjadi seorang Servant Leader diawali dari keinginan ini, kemudian menggerakkan dirinya untuk memimpin. Bukan sebaliknya, yaitu memiliki keinginan untuk memimpin terlebih dahulu.

 

3.       Mendengarkan (Listening)

Dimensi mendengarkan ini, Seorang servant leaders mengembangkan kemampuan dan komitmen untuk mengenali serta memahami secara jelas kata-kata yang disampaikan oleh orang lain. Mereka berusaha mendengarkan secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mereka mencari tahu apa yang ada dalam hati, dengan cara mendengarkan yang melampaui upaya untuk mengalahkan suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Mendengarkan, dipadukan dengan perenungan yang teratur, mutlak penting bagi pertumbuhan sang pemimpin. Seorang servant leader diharapkan bersedia meluangkan waktu dan energinya untuk mendengarkan secara empati. Mendengarkan dengan penuh empati akan mengaktifkan seluruh indra kita untuk fokus terhadap pembicara. Tanpa sadar, kita akan mampu memahami maksud yang tersirat melalui gestur tubuh, pemilihan kata yang digunakan, dan sebagainya. Sikap yang terbentuk melalui proses mendengar dengan empati akan membuat nyaman pembicara. Walau mungkin proses komunikasi tidak menghasilkan sebuah solusi, namun setelah didengarkan secara empati, beban psikologisnya akan terasa lebih ringan.

 

4.       Kesadaran (Awareness)

Dimensi kesadaran (Awareness) membantu memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai-nilai yang bersifat universal. Menurut Greenleaf, Servant Leader senantiasa memiliki ketenangan dalam batinnya sendiri. Dari seluruh dimensi servant leadership Polri, dimensi ini mungkin yang memerlukan waktu lebih lama untuk memahaminya. Penulis sendiri perlu “mengunyah-ngunyah” definisi ini dari berbagai sumber dan pengetahuan yang dimiliki, sebelum akhirnya dapar memahami dimensi ini. Individu dengan kesadaran level 3 (lapisan terdalam - high awareness), daerahnya sangat amat tenang, sehingga suara batin mampu mengalahkan impuls dari luar. Individu ini pasti akan sangat-amat terganggu dengan suara teriakan batinnya, sehingga akan lebih mudah menarik diri untuk tetap berada di jalan yang benar. Inilah yang dimaksud oleh Greenleaf bahwa, pemimpin dengan kesadaran (awareness) tinggi akan sangat terjaga dan sangat mudah "terganggu" oleh suara batinnya sendiri.

 

5.       Mengembangkan orang lain (Develop others)

Servant leaders berkeyakinan bahwa manusia mempunyai nilai intrinsik melampaui sumbangan nyata mereka sebagai pekerja. Dalam hal ini, servant leaders memiliki komitmen yang tinggi terhadap pertumbuhan pribadi, professional, dan spiritual setiap individu dalam organisasi dimana dia berada. Dimensi ini mungkin merupakan tantangan terberat bagi Perwira Polri yang memiliki sifat bawaan pesimis, yang selalu mengeluh akan sumber daya manusia yang ia miliki. Individu seperti ini umumnya selalu mengeluhkan tingkat pendidikan anggota, mengeluhkan sikap malas anggota, mengeluhkan perilaku manipulatif, dsb. Servant Leader memiliki pandangan yang berkebalikan yaitu, dia memandang anggota-anggotanya secara positif. Dalam dimensi mengembangkan orang lain (develop others), seorang pemimpin perlu terlebih dahulu membangun sikap positif ke dua arah. Sikap positif pertama ditujukan terhadap orang lain, atau secara khusus terhadap anggota. Yakinkan pada diri sendiri bahwa anak buah memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Sikap positif yang kedua ditujukan kepada diri sendiri. Yakinkan diri Anda, bahwa seorang Anda adalah guru bagi anggota-anggota Anda.

 

6.       Konseptual (Conceptualization)

Dimensi Servant Leader ini berusaha mengembangkan kemampuan mereka untuk "memimpikan impian-impian besar." Kemampuan untuk melihat suatu masalah (atau organisasi) dari perspektif konseptual, yang berarti bahwa seseorang harus berpikir di luar rutinitas sehari-hari. Dengan membangun konsep, maka manusia memiliki akurasi terhadap suatu abstraksi dari realitas tersebut, sehingga saat digunakan dalam menjelaskannya kembali kepada manusia lainnya tidak mengalami pergeseran makna yang begitu berarti. Proses membentuk konsep diawali dengan mengidentifikasi karakteristik yang ada dalam suatu abstraksi realitas, kemudian disintesis dalam suatu istilah yang disebut dengan konsep. Ketika terjadi pergeseran makna dalam proses komunikasi atau penyampaian pesan, maka konsep tersebut hendaknya perlu dianalisis atau diurai kembali satu-persatu bagiannya untuk menemukan di mana titik terjadinya kekeliruan, dan menciptakan persamaan persepsi terhadap konsep yang dimaksud. Dimensi konseptual (conceptualization) adalah kemampuan seorang Servant Leader untuk memimpikan hal-hal besar bagi organisasinya, dan melihat segala fenomena yang telah, sedang dan akan dilalui menggunakan perspektif konseptual. Perspektif ini melibatkan proses analisis (analysis), sintesis (syntesis), kategorisasi (categorize), menyederhanakan (simplify), dan berpikir logis (logical thingking).

 

7.       Persuasif (Persuasion)

Persuasif adalah suatu upaya sadar oleh individu untuk mengubah sikap, keyakinan atau perilaku individu atau kelompok individu lain melalui transmisi beberapa pesan, dalam konteks Servant Leadership adalah upaya dari Perwira Polri terhadap orang lain khususnya terhadap para anggotaanya. Ciri khas seorang Servant Leaders adalah kemampuan diri untuk memengaruhi orang lain dengan tidak menggunakan wewenang dan kekuasaan yang berasal dari kedudukan atau otoritas formal dalam membuat keputusan di organisasi. Servant Leader berusaha meyakinkan orang lain, dan servant leadership lebih efektif dalam membangun konsensus kelompok untuk memecahkan berbagai permasalahan yang timbul. Seseorang pada dasarnya tidak akan mau melakukan sesuatu, membuat inovasi, terlibat secara emosional, mendukung atau bergerak maju tanpa memiliki keyakinan bahwa dirinya aman (safety), merasa terhubung (belonging) atau ikut memiliki dan dihargai (mattering). Pemilihan kata yang tepat saat memberi perintah dengan pendekatan persuasif akan menciptakan rasa aman, rasa ikut memiliki dan dihargai dalam hati anggota yang mendengarnya.

 

8.       Tinjauan ke masa depan (foresight)

Persepsi adalah bagaimana cara kita menafsirkan dan memahami pandangan tentang dunia dan persepsi juga sifatnya subjektif, karena persepsi dibentuk oleh penafsiran otak manusia. Diawali dari stimulus yang

diterima panca indera kita, kemudian stimulus tersebut didorong ke otak, selanjutnya diproses secara psikologis, hingga terbentuk persepsi. Dengan demikian, tiap-tiap individu dapat memiliki persepsi yang berbeda atas stimulus dari realitas yang sama, atau disebut juga dengan perspektif. Terdapat beberapa perspektif berdasarkan pertanyaan mendasar yang ditanyakan oleh individu, yaitu hindsight (dari mana saya berasal?), farsight (apa yang aku impikan?), longsight (saya mau ke mana?), nearsight (dimana saya hari ini?), insight (apa yang saya budidayakan?), oversight (apa yang saya kembangkan?) dan foresight (apa yang harus saya lakukan?). Perspektif yang membentuk seorang Servant Leader adalah foresight (tinjauan ke masa depan). Foresight merupakan suatu kemampuan memperhitungkan sebelumnya atau meramalkan hasil satu untuk didefinisikan,tetapi mudah untuk dikenali. Kemampuan untuk melihat masa depan (memiliki visi) adalah ciri khas yang memungkinkan Servant Leader dapat memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat ini, dat kgmungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa dating. Seorang Servant Leader membangun visi dengan mempertimbangkan tiga dimensi waktu, yaitu masa lalu, Saat ini dan masa depan. Dalam konteks masa lalu, dirinya tidak mengabaikan sejarah yang membentuk atau memengaruhi organisasi, dan secara rutin melaksanakan evaluasi dari program-program yang telah dikerjakan (dengan variabel yang komprehensif dan objektif tentunya). Dalam konteks saat ini, dirinya memahami apa yang sedang terjadi dalam lingkungan kerjanya dan lingkungan yang memengaruhinya. Dengan memadukan catatan sejarah, hasil evaluasi, dan kondisi saat ini, servant leader memiliki keyakinan untuk meraih gambaran besar untuk organisasinya dalam konteks masa depan.

 

Dengan penjelasan delapan dimensi diatas, penulis menarik benang merah bahwa Servant Leadership Polri adalah kepemimpinan yang menunjukkan integritas dan keteladanan, dengan berorientasi terhadap anggota melalui proses melayani, mendengarkan, dan mengembangkan, untuk mengajak mereka mewujudkan tujuan organisasi dengan pola pikir konseptual dan tinjauan ke masa depan.

 

BAGIAN YANG MENARIK DARI BUKU

Buku ini menjelaskan analisis hubungan antara budaya organisasi dan efektivitas Servant Leadership. Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan melayani di Polri tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya. Hal ini menjadi bagian yang paling menarik dari buku ini. Ketika penekanan penulis bahwa keberhasilan penerapan Servant Leadership di lingkungan Polri tidak dapat dilepaskan dari faktor budaya, khususnya dimensi High-Low Power Distance.

Gagasan ini terasa sangat relevan dengan pengalaman empiris saya. Ketika berdinas dalam satu Polres dengan kurun waktu berbeda saya mendapati dua tipe Kapolres dengan karakter kepemimpinan yang berbeda, yakni Low Power Distance dan High Power Distance. Kapolres dengan Low Power Distance cenderung membuka ruang dialog, bersikap menghormati dan menghargai, mau mendengarkan, serta memperlakukan anggota sebagai mitra kerja, bukan semata objek komando. Pola ini sejalan dengan nilai-nilai Servant Leadership sebagaimana dikonstruksikan dalam buku ini, dan dalam praktiknya Kapolres seperti ini terbukti lebih disenangi oleh anggota serta mampu menciptakan rasa aman, nyaman, dan keterikatan emosional dalam bekerja. Sebaliknya, Kapolres dengan High Power Distance menunjukkan jarak hierarkis yang kaku, komunikasi satu arah, dan dominasi otoritas formal, yang sering kali menghambat tumbuhnya karakter melayani. Sehingga menimbulkan kesan suasana kerja yang tidak nyaman ketika kehadiran Kapolres tersebut. Pengalaman ini menguatkan menguatkan buku ini, bahwa Servant Leadership Polri tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif atau ideal, melainkan harus disertai kesadaran budaya dan upaya menurunkan jarak kekuasaan agar nilai-nilai melayani benar-benar hidup dan dirasakan oleh anggota dalam keseharian organisasi.