DESKRIPSI
BUKU
Judul :
Servant Leadership Polri Dan Budaya
Yang Mempengaruhinya
Penulis : Dr. I Gede Nyoman Bratasena, S.I.K., M.I.K.
Penerbit : Deepublish
Tahun Terbit : 2022
Kota
terbit : Yogyakarta
Jumlah
Halaman : ±174 halaman
Ukuran
buku : A5
ISBN : 978-623-02-4977-8
Jenis
Buku : Ilmiah
Buku ini lahir dari hasil penelitian dan karya
akademik berupa Disertasi penulis dalam Program Studi Doktor Ilmu Kepolisian di
STIK. Secara khusus, buku ini mengkaji konsep kepemimpinan melayani (Servant Leadership) dalam
konteks organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), termasuk
berbagai dimensi budaya yang memengaruhi penerapan dan efektivitas kepemimpinan
tersebut. Buku hadir dari kegelisahan penulis (yang tergambar dikata pengantar)
terhadap kepuasan pelayanan yang diberikan Polri kepada masyarakat sebagai
“pelanggannya”. Kepuasan pelanggan ini lahir dari pelayanan yang memiliki
nilai, sedangkan pelayanan yang memiliki nilai sepenuh hati dapat terwujud
dengan pelayanan organisasi terhadapnya, serta pelayanan organisasi
bertergantung pada kepemimpinan. Isu Utama Isu sentral yang penulis bahas dalam
buku ini bahwa hambatan terbesar Polri untuk menjadi institusi yang dicintai
adalah sisa-sisa karena budaya lama yang menghambat munculnya karakter
"pelayan".
Selain itu, dalam buku ini melihat bagaimana
menyelaraskan teori kepemimpinan (khususnya Servant Leadership) dengan
karakteristik Polri agar tidak hanya menjadi teori yang mengambang tetapi dapat
digunakan sesuai harapan organisasi. Kegelisahan itu dikuatkan dengan hasil
penelitian penulis pada tahun 2016 yang memperlihatkan persentase besar pada
pola piker otoriter yang menunjukan bahwa pemimpin perwira polri masih
cenderung menempatkan anggota sebagai objek dalam organisasi yang hanya perlu
manajemen dan diawasi untuk mencapai tujuan organisasi. Keunikan
buku ini terletak pada upaya penulis untuk tidak sekadar mengadopsi teori
kepemimpinan Barat secara mentah tentang teori filosofis kepemimpinan Serven
Leadership, melainkan mengontekskannya dengan karakter, struktur, dan budaya
kepemimpinan jawa yang tertuang dalam asta brata yang sejalan dengan nilai Tri
Brata. Yang kemudian diterapkan dalam organisasi Polri untuk melahirkan suatu
kontruksi Servant leadership Polri dan dimensi budaya yang
mempengaruhinya. Tujuan buku ini adalah menyediakan arah dan cara
belajar bagi para perwira Polri untuk mengubah gaya kepemimpinan mereka menuju Serven
Leadership. Buku ini menjelaskan mengenai sejarah Serven Leadership,
serta proses membentuk Serven Leadership Polri yang diharapkan dapat
mengakomodir keluhan-keluhan anggota Polri. Penulis berharap buku ini mampu
mengantarkan perspektif baru yang memiliki daya momentum bagi polri untuk
mewujudkan tujuan organisasi.
Isi Buku
Secara Ringkas
Dibagian pendahuluan awal dari buku ini,
menjelaskan bahwa kepemipinan sebagai salah satu bagian dari fungsi manajemen
yang memegang peranan penting dalam menjamin tujuan organisasi. Teori yang
service profit chain menggambarkan bahwa tercapainya tujuan organisasi pada
hakikatnya diawali dari kepuasan karyawan atas pelayanan internal yang mereka
terima, pelayanan internal ini bergantung kepada pemimpin. Selain itu, dibagian
awal buku ini juga menjelaskan tentang filosofi Servant Leadership dari
Greenlaf yang mengatakan bahwa kepemimpinan berawal dari perasaan tulus yang
timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi
pihak pertama yang melayani. Pilihan yang berasal dari suara hati tersebut
kemudian menghadirkan Hasrat untuk menjadi pemimpin. Penerapan Servant
Leadership pada Polri sudah diatur dalam Peraturan Kapolri No.14 Tahun
2011, tentang Kode Etik Profesi Polri dalam pasal 7 ayat 2 huruf a.
Selanjutnya, masih dibagian awal buku ini, penulis
memaparkan tentang teori Servant Leadership yang digunakan untuk
membangun instrument Kesehatan organisasi (Organization Leadership Assesment
(OLA)), yang mana dalam penerapan Servant Leadership dapat membawa kesehatan
organisasi ketingkat paling tinggi (level 6, Optimal health) dengan kata
lain ciri organisasi dengan Kesehatan yang optimal adalah memiliki pola pikir
melayani dengan memperlakukan anggota sebagai mitra kerja. Selain itu, penulis
telah melakukan penelitian tahun 2019 dengan menggunakan instrument OLA pada
Polri, yang mengahsilkan hasil penelitian dengan nilai organisasi Polri sebesar
3,45 (masuk kategori negative Paternalistic) artinya limited helath
– Kesehatan organisasi level 3.
Masuk dalam tahap bab pembahasan awal, buku ini
menjelaskan secara gamblang tentang Servant Leadership. Pembahasan bab
awal ini dimuali dengan menjelaskan apa itu pemimpin, pendekatan dalam
kepemipinan (trait theories, contingency theories, contemporary theories
& responsible leadership). Kemudian, masih di bab awal ini penulis
menjelaskan tentang apa itu Servant Leadership, yaitu seorang Servant
Leader adalah pelayan utama yang diawali dari perasaan alami untuk ingin
melayani pertama kali. Kemudian pilihan sadar membawa orang untuk bercita-cita
memimpin. Perasaan alami ini memanifestasikan dirinya dalam sikap kepedulian
terlebih dahulu untuk memastikan bahwa prioritas kebutuhan tertinggi adalah
melayani orang lain. Secara konseptual Servant Leadership lebih mengutamakan
kebutuhan atau kepentingan karyawan dan lebih beroreintasi terhadap pengikut
bila dibandingkan dengan transformational leadership dan ethical
leadership. Servant Leadership menempatkan pimpinan tertinggi pada
suatu organisasi pada titik terendah yang berperan sebagai tonggak atau
landasan bagi para anggota-anggotanya (struktur bangun segitiga terbalik), yang
menggambarkan bahwa beban terberat akan dialami oleh posisi pimpinan tertinggi
dalam suatu organisasi.
Tahap selanjutnya dalam buku ini, mencoba mengkontruksi
Servant Leadership Polri. Mulai dari
pertanyaan bagaimana membentuk Servant Leadership Polri? Pada tahap ini
penulis dalam penelitiannya melakukan kontruksi Servant Leadership yang
dibutuhkan Polri dengan beberapa tahap. Mulai dari melakukan sinkronisasi nilai
kepemimpinan Asta Brata dengan dimensi Servant Leadership, melakukan
analisis dimensi Servant Leadership dengan piranti lunak atau peraturan
pada organisasi Polri, melakukan analisis dimensi Servant Leadership dengan
keluhan dan harapan anggota Polri terhadap karakteristik pemimpin Polri yang
ideal, sampai menetapkan dimensi servant leadership Polri yang terdiri dari:
integritas (integrity), melayani (stewardship), mendengarkan (listening),
kesadaran (awareness), mengembangkan orang lain (develop others),
konseptual (conceptualization), persuasive (persuasion), dan
Tinjauan ke masa depan (foresight).
Setelah tahap Panjang dalam mengkontruksikan Servant
Leadership untuk Polri, penulis kemudian membahas lebih dalam tentang pengaruh
budaya terhadap Servant Leadership Polri. Secara umum kepemimpinan/Leadership
dipengaruhi oleh kepribadian dan daya kognitifnya, tetapi yang kemudian
ditambahkan bahwa budaya juga mempengaruhi Servant Leadership. Dalam
buku ini terdapat enam dimensi budaya menurut Hofstede yang dapat dikaitan
dalam pengaruhnya terhadap Servant Leadership, yaitu: High vs Low
Power Distance, High vs Low Uncertainty Avoidance, Individualism vs
Collectivism, Masculinity vs Femininity, Long vs Short Term Orientation, Dan
Indulgence vs Restraint. Selanjutnya dari hasil riset penulis menyimpulan
bahwa budaya yang menguatkan Servant Leadership pada perwira Polri jika
diurutkan berdasarkan pengaruhnya yang paling kuat adalah: Indulgence, Low
Uncertainty Avoidance, Long Term Orientation, Collectivism, dan Low
Power Distance.
Dibagian terakhir dalam buku ini, penulis
menjelaskan tentang membangun Servant Leadership pada perwira Polri,
yang diterapkan oleh seluruh jenjang kepangkatan perwira mulai IPDA sampai
Jenderal Polisi. Dalam kerangka keterampilan manajemen, terdapat tiga pembagian
kelompok manager dengan tiga komposisi skill, yaitu: Perwira tinggi (Top
management) yang memiliki conceptual skill yang besar dan technical
skill yang lebih sedikit, Perwira menengah (Middle Management)
dengan conceptual skill dan technical skill yang
seimbang, dan Perwira pertama (First-line management) yang memiliki conceptual
skill lebih kecil dan technical skill yang besar,
sedangkan untuk human skill memiliki komposisi yang dinamis pada
ketiga tingkatan manajemen. Sebagai penutup dibagian akhir buku ini,penulis
mengajukan delapan rekomendasi yang berkaitan dengan kontribusi baru Servant
Leadership Polri dan Budaya yang mempengaruhinya, yaitu: membentuk doktrin
baru perwira polri, Evaluasi proses membentuk sikap menghormati senior,
bersenang-senanglah!, Lindungilah anggota, berikan ruang bagi anggota untuk
menilai pimpinan, kaji Kembali standar-standar kinerja Perwira Polri, evaluasi
penerapan Servant Leadership secara berkala, dan yang terakhir Mulailah
dari diri sendiri.
URAIAN
TENTANG SERVANT LEADERSHIP POLRI
Dapat dikatakan bahwa pikiran pokok dalam buku ini
adalah bagaimana penulis menjelaskan tentang Servant Leadership Polri
untuk dapat diaplikasikan pada tugas seorang perwira. Servant Leadership Polri
adalah kepemimpinan yang menunjukkan integritas dan keteladanan, dengan
beroreintasi terhadap anggota melalui proses melayani, mendengarkan, dan
mengembangkan, untuk mengajak mereka mewujudkan tujuan organisasi dengan pola
piker konseptual dan tujuan ke masa depan. Penulis kemudian mengurai tiap-tiap
dimensi beserta indikator yang membentuknya kemudian dipadukan dengan harapan
anggota Polri sesuai penelitian penulis, seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya.
1.
Integritas (Integrity)
Integritas (Integrity) adalah dimensi
tertinggi yang sangat diharapkan oleh anggota Polri dari Perwiranya. Mereka
berharap agar para pemimpin dapat lebih terbuka dan lebih transparan. Sering
menjadi keluhan anggota Polri tentang pemimpin yang sering menasehati bahkan
memberi teguran sementara dirinya sendiri melanggar hal yang diucapkan. Rasa
hormat akan hilang ketika seseorang pemimpin mengingingkari apa yang ia
nesihatkan kepada anggotanya. Maka, sebagai salah satu dari indicator dari
dimensi Integritas (Integrity), seorang Servant Leader wajib
melaksanakan apa yang ia ucapkan. Para Servant Leaders memperlihatkan
kejujuran dan transparansi melalui ucapan dan tindakan mereka. Mereka rendah
hati, terbuka, dan bertanggung jawab kepada orang lain termasuk orang-orang di
bawah mereka dalam organisasi. Mereka bersedia untuk belajar dari semua orang
dan mereka menunjukkan integritas yang dalam dan konsisten yang menarik orang
ke arah mereka, kepercayaan mereka, dan perilaku etis.
2.
Melayani (Stewardship)
Dimensi ini berada di urutan kedua dalam harapan
anggota Polri terhadap pimpinannya. Penulis melihat ada sedikit komplikasi
antara dimensi melayani (stewardship) dengan dimensi budaya power distance,
apabila keliru dalam memahami makna "melayani". Seorang servant
leader tidak akan terbuai dengan pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh
anggota di tengah budaya high power distance. Dirinya akan tetap memikirkan apa
yang dibutuhkan oleh para anak buahnya, lepas dari dirinya diberi pelayanan
maupun tidak diberi pelayanan. Seorang Servant Leader haruslah mempunyai
keinginan untuk melayani dan terutama komitmen untuk melayani kebutuhan orang
lain. Ini juga menekankan pada pentingnya aspek keterbukaan dan memengaruhi,
bukannya pengendalian (controlling). Servant Leader berusaha
dengan segenap upaya untuk mengarahkan agar semua yang ada dalam organisasi
memainkan peranan penting dalam menjalankan organisasi tersebut dengan mengarah
kepada kebaikan masyarakat yang lebih besar. Ini merupakan dimensi kunci dari Servant
Leadership, yaitu keinginan untuk melayani. Menjadi seorang Servant
Leader diawali dari keinginan ini, kemudian menggerakkan dirinya untuk
memimpin. Bukan sebaliknya, yaitu memiliki keinginan untuk memimpin terlebih
dahulu.
3.
Mendengarkan (Listening)
Dimensi mendengarkan ini, Seorang servant leaders
mengembangkan kemampuan dan komitmen untuk mengenali serta memahami secara
jelas kata-kata yang disampaikan oleh orang lain. Mereka berusaha mendengarkan
secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mereka mencari tahu apa
yang ada dalam hati, dengan cara mendengarkan yang melampaui upaya untuk
mengalahkan suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang
dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Mendengarkan, dipadukan dengan
perenungan yang teratur, mutlak penting bagi pertumbuhan sang pemimpin. Seorang
servant leader diharapkan bersedia meluangkan waktu dan energinya untuk
mendengarkan secara empati. Mendengarkan dengan penuh empati akan mengaktifkan
seluruh indra kita untuk fokus terhadap pembicara. Tanpa sadar, kita akan mampu
memahami maksud yang tersirat melalui gestur tubuh, pemilihan kata yang
digunakan, dan sebagainya. Sikap yang terbentuk melalui proses mendengar dengan
empati akan membuat nyaman pembicara. Walau mungkin proses komunikasi tidak
menghasilkan sebuah solusi, namun setelah didengarkan secara empati, beban
psikologisnya akan terasa lebih ringan.
4.
Kesadaran (Awareness)
Dimensi kesadaran (Awareness) membantu
memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai-nilai yang bersifat
universal. Menurut Greenleaf, Servant Leader senantiasa memiliki
ketenangan dalam batinnya sendiri. Dari seluruh dimensi servant leadership
Polri, dimensi ini mungkin yang memerlukan waktu lebih lama untuk memahaminya.
Penulis sendiri perlu “mengunyah-ngunyah” definisi ini dari berbagai sumber dan
pengetahuan yang dimiliki, sebelum akhirnya dapar memahami dimensi ini.
Individu dengan kesadaran level 3 (lapisan terdalam - high awareness),
daerahnya sangat amat tenang, sehingga suara batin mampu mengalahkan impuls
dari luar. Individu ini pasti akan sangat-amat terganggu dengan suara teriakan
batinnya, sehingga akan lebih mudah menarik diri untuk tetap berada di jalan
yang benar. Inilah yang dimaksud oleh Greenleaf bahwa, pemimpin dengan
kesadaran (awareness) tinggi akan sangat terjaga dan sangat mudah
"terganggu" oleh suara batinnya sendiri.
5.
Mengembangkan orang lain (Develop others)
Servant leaders berkeyakinan bahwa manusia
mempunyai nilai intrinsik melampaui sumbangan nyata mereka sebagai pekerja.
Dalam hal ini, servant leaders memiliki komitmen yang tinggi terhadap
pertumbuhan pribadi, professional, dan spiritual setiap individu dalam
organisasi dimana dia berada. Dimensi ini mungkin merupakan tantangan terberat
bagi Perwira Polri yang memiliki sifat bawaan pesimis, yang selalu mengeluh
akan sumber daya manusia yang ia miliki. Individu seperti ini umumnya selalu
mengeluhkan tingkat pendidikan anggota, mengeluhkan sikap malas anggota,
mengeluhkan perilaku manipulatif, dsb. Servant Leader memiliki pandangan
yang berkebalikan yaitu, dia memandang anggota-anggotanya secara positif. Dalam
dimensi mengembangkan orang lain (develop others), seorang pemimpin
perlu terlebih dahulu membangun sikap positif ke dua arah. Sikap positif
pertama ditujukan terhadap orang lain, atau secara khusus terhadap anggota.
Yakinkan pada diri sendiri bahwa anak buah memiliki potensi yang bisa
dikembangkan. Sikap positif yang kedua ditujukan kepada diri sendiri. Yakinkan
diri Anda, bahwa seorang Anda adalah guru bagi anggota-anggota Anda.
6.
Konseptual (Conceptualization)
Dimensi Servant Leader ini berusaha
mengembangkan kemampuan mereka untuk "memimpikan impian-impian
besar." Kemampuan untuk melihat suatu masalah (atau organisasi) dari
perspektif konseptual, yang berarti bahwa seseorang harus berpikir di luar
rutinitas sehari-hari. Dengan membangun konsep, maka manusia memiliki akurasi
terhadap suatu abstraksi dari realitas tersebut, sehingga saat digunakan dalam
menjelaskannya kembali kepada manusia lainnya tidak mengalami pergeseran makna
yang begitu berarti. Proses membentuk konsep diawali dengan mengidentifikasi
karakteristik yang ada dalam suatu abstraksi realitas, kemudian disintesis
dalam suatu istilah yang disebut dengan konsep. Ketika terjadi pergeseran makna
dalam proses komunikasi atau penyampaian pesan, maka konsep tersebut hendaknya
perlu dianalisis atau diurai kembali satu-persatu bagiannya untuk menemukan di
mana titik terjadinya kekeliruan, dan menciptakan persamaan persepsi terhadap
konsep yang dimaksud. Dimensi konseptual (conceptualization) adalah
kemampuan seorang Servant Leader untuk memimpikan hal-hal besar bagi
organisasinya, dan melihat segala fenomena yang telah, sedang dan akan dilalui
menggunakan perspektif konseptual. Perspektif ini melibatkan proses analisis (analysis),
sintesis (syntesis), kategorisasi (categorize), menyederhanakan (simplify),
dan berpikir logis (logical thingking).
7.
Persuasif (Persuasion)
Persuasif adalah suatu upaya sadar oleh individu
untuk mengubah sikap, keyakinan atau perilaku individu atau kelompok individu
lain melalui transmisi beberapa pesan, dalam konteks Servant Leadership
adalah upaya dari Perwira Polri terhadap orang lain khususnya terhadap para anggotaanya.
Ciri khas seorang Servant Leaders adalah kemampuan diri untuk
memengaruhi orang lain dengan tidak menggunakan wewenang dan kekuasaan yang
berasal dari kedudukan atau otoritas formal dalam membuat keputusan di
organisasi. Servant Leader berusaha meyakinkan orang lain, dan servant
leadership lebih efektif dalam membangun konsensus kelompok untuk memecahkan
berbagai permasalahan yang timbul. Seseorang pada dasarnya tidak akan mau
melakukan sesuatu, membuat inovasi, terlibat secara emosional, mendukung atau
bergerak maju tanpa memiliki keyakinan bahwa dirinya aman (safety),
merasa terhubung (belonging) atau ikut memiliki dan dihargai (mattering).
Pemilihan kata yang tepat saat memberi perintah dengan pendekatan persuasif
akan menciptakan rasa aman, rasa ikut memiliki dan dihargai dalam hati anggota
yang mendengarnya.
8.
Tinjauan ke masa depan (foresight)
Persepsi adalah bagaimana cara kita menafsirkan dan
memahami pandangan tentang dunia dan persepsi juga sifatnya subjektif, karena
persepsi dibentuk oleh penafsiran otak manusia. Diawali dari stimulus yang
diterima
panca indera kita, kemudian stimulus tersebut didorong ke otak, selanjutnya
diproses secara psikologis, hingga terbentuk persepsi. Dengan demikian,
tiap-tiap individu dapat memiliki persepsi yang berbeda atas stimulus dari
realitas yang sama, atau disebut juga dengan perspektif. Terdapat beberapa
perspektif berdasarkan pertanyaan mendasar yang ditanyakan oleh individu, yaitu
hindsight (dari mana saya berasal?), farsight (apa yang aku
impikan?), longsight (saya mau ke mana?), nearsight (dimana saya
hari ini?), insight (apa yang saya budidayakan?), oversight (apa
yang saya kembangkan?) dan foresight (apa yang harus saya lakukan?).
Perspektif yang membentuk seorang Servant Leader adalah foresight
(tinjauan ke masa depan). Foresight merupakan suatu kemampuan memperhitungkan
sebelumnya atau meramalkan hasil satu untuk didefinisikan,tetapi mudah untuk dikenali.
Kemampuan untuk melihat masa depan (memiliki visi) adalah ciri khas yang memungkinkan
Servant Leader dapat memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat
ini, dat kgmungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa dating. Seorang Servant
Leader membangun visi dengan mempertimbangkan tiga dimensi waktu, yaitu
masa lalu, Saat ini dan masa depan. Dalam konteks masa lalu, dirinya tidak
mengabaikan sejarah yang membentuk atau memengaruhi organisasi, dan secara
rutin melaksanakan evaluasi dari program-program yang telah dikerjakan (dengan
variabel yang komprehensif dan objektif tentunya). Dalam konteks saat ini,
dirinya memahami apa yang sedang terjadi dalam lingkungan kerjanya dan
lingkungan yang memengaruhinya. Dengan memadukan catatan sejarah, hasil
evaluasi, dan kondisi saat ini, servant leader memiliki keyakinan untuk meraih
gambaran besar untuk organisasinya dalam konteks masa depan.
Dengan penjelasan delapan dimensi diatas, penulis
menarik benang merah bahwa Servant Leadership Polri adalah kepemimpinan
yang menunjukkan integritas dan keteladanan, dengan berorientasi terhadap anggota
melalui proses melayani, mendengarkan, dan mengembangkan, untuk mengajak mereka
mewujudkan tujuan organisasi dengan pola pikir konseptual dan tinjauan ke masa
depan.
BAGIAN YANG MENARIK DARI BUKU
Buku ini menjelaskan analisis hubungan
antara budaya organisasi dan efektivitas Servant Leadership.
Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan melayani di Polri tidak
bisa dilepaskan dari faktor budaya. Hal ini menjadi bagian yang paling menarik
dari buku ini. Ketika penekanan penulis bahwa keberhasilan penerapan Servant Leadership di
lingkungan Polri tidak dapat dilepaskan dari faktor budaya, khususnya dimensi
High-Low Power Distance.
Gagasan ini terasa sangat relevan dengan pengalaman empiris saya. Ketika berdinas dalam satu Polres dengan kurun waktu berbeda saya mendapati dua tipe Kapolres dengan karakter kepemimpinan yang berbeda, yakni Low Power Distance dan High Power Distance. Kapolres dengan Low Power Distance cenderung membuka ruang dialog, bersikap menghormati dan menghargai, mau mendengarkan, serta memperlakukan anggota sebagai mitra kerja, bukan semata objek komando. Pola ini sejalan dengan nilai-nilai Servant Leadership sebagaimana dikonstruksikan dalam buku ini, dan dalam praktiknya Kapolres seperti ini terbukti lebih disenangi oleh anggota serta mampu menciptakan rasa aman, nyaman, dan keterikatan emosional dalam bekerja. Sebaliknya, Kapolres dengan High Power Distance menunjukkan jarak hierarkis yang kaku, komunikasi satu arah, dan dominasi otoritas formal, yang sering kali menghambat tumbuhnya karakter melayani. Sehingga menimbulkan kesan suasana kerja yang tidak nyaman ketika kehadiran Kapolres tersebut. Pengalaman ini menguatkan menguatkan buku ini, bahwa Servant Leadership Polri tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif atau ideal, melainkan harus disertai kesadaran budaya dan upaya menurunkan jarak kekuasaan agar nilai-nilai melayani benar-benar hidup dan dirasakan oleh anggota dalam keseharian organisasi.
