Selasa, 20 Maret 2012

HUBUNGAN KERJASAMA ANTAR SUKU MELAYU DENGAN TIONGHOA DI KAB BANGKA PROV.BABEL



 




KELOMPOK I
KELAS D









 
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk lain. Dengana akal budinya, manusia dapat berpikir dan menemukan cara-cara yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Salah satu cara yang ditemukan oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya tersebut adalah kerja sama. manusia sadar bahwa tanpa kerja sama, mereka tidak mungkin memenuhi kebutuhannya sendiri secara layak.
Sifat majemuk dari bangsa Indonesia, disamping merupakan kebanggaan hendaknya pula dilihat bahwa suatu negara dengan keanekaragaman suku-bangsa dan kebudayaan mengandung potensi konflik. Oleh karenanya guna menuju suatu integrasi nasional Indonesia yang kokoh, terdapat berbagai kendala yang harus diperhatikan.

2. MAKSUD DAN TUJUAN
a. Maksud
Maksud daripada penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan refrensi tambahan bagi para pembaca tentang kerjasama yang dipandang mealalui ilmu hubungan antar suku bangsa dengan prespektif interaksionistik.


b. Tujuan
Dalam  penyusunan makalah ini memilki beberapa tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan tersebut antara lain :
1) Agar para pembaca mengetahui bahwa di Indonesia dalam hal ini Kab Bangka Prov Bangka belitung terdapat kerjasama antara suku melayu dengan tionghoa yang terjadi secara alami
2) Agar dapat memberikan gambaran kepada para pembaca tentang bentuk kerjasama antar suku bangsa di Indonesia.
3) Agar dapat memenuhi standar penilaian dalam penugasan mata kuliah hubungan antar suku bangsa.

3. RUANG LINGKUP
Dalam penyusunan makalah ini memilki batasan-batasan materi yang dibahas tentang kerjasama yang dipandang melalui ilmu hubungan antar suku bangsa ditinjau dari perspektif interaksionistik dengan masalah sebagai berikut:
Ø  ”Bagaimana bentuk kerjasama antara suku melayu (pribumi) dengan suku tionghoa (pendatang) di kab bangka prov bangka belitung di tinjau dari Prespektif interaksionistik ? “






BAB II
PEMBAHASAN

1. ARTI KERJASAMA.
Arti kerjasama adalah interaksi sosial antar individu atau kelompok yang secara bersama-sama mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Untuk lebih jelasnya simaklah bahasan berikut ini. Arti kerja sama dalam berbagia kehidupan, Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia ingin diperhatikan, dihormati dan didahulukan kepentingannya. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu ingin berkumpul dengan manusia yang lain. Aristoteles menamakan hal ini sebagai zoon politicon artinya makhluk yang selalu ingin hidup berkelompok dan sesamanya. Berdasarkan konsep tersebut, lahirlah hubungan dan kerja sama manusia satu dengan lainnya. Manusia atau bangsa tidak dapat lepas dari hubungan kerja sama dengan manusia atau bangsa lain. Hal ini membuktikan bahwa kerja sama benar-benar hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Beban suatu negara menjadi sangat berat bila hubungan dengan bangsa lain dihambat atau diputus.


2.  HARMONISASI ANTARA TIONGHOA DENGAN MELAYU DI KAB BANGKA
Tidak ada kota di Indonesia yang penulisan nama jalannya menggunakan tiga bahasa selain Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di sana, setiap papan nama jalan ditulis menggunakan bahasa Indonesia, yang letaknya paling atas, lalu bahasa Arab dan bahasa Mandarin.
Kebijakan yang diterapkan sejak tahun 2006 tersebut sengaja dilakukan pemerintah setempat guna menunjukkan dan memberi pesan kepada masyarakat luas bahwa daerah itu dihuni warga berbagai suku dan agama, yang semuanya memiliki posisi setara.
Harmonisasi antarwarga Melayu dan Tionghoa di Bangka begitu kental dan mesra. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak nenek moyang mereka sehingga mereka wajib merawatnya.
Saat ini, populasi warga Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 30 persen dari total 1,2 juta jiwa penduduk wilayah itu. Mereka menekuni berbagai profesi, seperti pengusaha, petani, nelayan, tukang jahit, serta penjual sayur, ikan, dan buah-buahan. Ada juga guru dan karyawan.
Tempat tinggal mereka pun tidak selalu terkonsentrasi di lokasi tertentu, tetapi cenderung membaur dengan masyarakat dari etnis dan agama lain. Itu sebabnya, pembauran berlangsung alami.
Sejak kecil, anak suku melayu sudah bergaul dan bermain bersama anak-anak warga Tionghoa. Meraka bersahabat kental sehingga beberapa anak Melayu bisa berbicara bahasa Mandarin dengan lancar. Orangtua mereka pun selalu berpesan bahwa orang Tionghoa adalah saudara dekat,
Jika ada warga Tionghoa menggelar hajatan atau dalam kedukaan, tetangganya warga Melayu atau etnis lain selalu dilibatkan. Begitu pula sebaliknya, jika etnis lain melakukan kegiatan serupa, warga Tionghoa pun bahu-membahu untuk memasak, mengurusi tamu, dan lain-lain.
Eratnya kebersamaan ini membuat hampir tidak ada konflik sosial yang melibatkan etnis di Bangka. Apalagi, pekerjaan yang ditekuni dan jenis rumah yang ditempati pun hampir sama sehingga nyaris terbebas dari kecemburuan sosial,
Saat Imlek atau Lebaran, mereka bersalam-salaman sebab di antara warga Melayu dan Tionghoa sering terjadi perkawinan silang. Anak laki-laki ada yang kawin dengan perempuan Melayu dan masuk Islam. Tetapi, saat Imlek, mereka bersama istri dan mertuanya datang ke rumah memberikan selamat. Saat Lebaran, mereka sekeluarga juga mendatangi rumah anak dan besan untuk menyampaikan selamat merayakan Idul Fitri,
Kebiasaan bersilaturahim tersebut bahkan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat di Bangka, baik masyarakat Tionghoa maupun Melayu. persaudaraan yang terbina melalui perkawinan telah membuat hubungan antara warga Tionghoa, Melayu, dan Islam di Bangka Belitung nyaris tanpa sekat. Beberapa tahun lalu pernah ada pihak yang melakukan provokasi guna membenturkan warga Tionghoa dengan Melayu dan Islam di wilayah itu, tetapi tidak berhasil.
Harmonisasi seperti ini harus terus terbina dan terpelihara. Namun, para pembuat kebijakan pun perlu mengayomi semua pihak agar kebersamaan yang telah terjalin di tengah masyarakat tidak dihancurkan oleh kepentingan politik sesaat,

3.  KERJASAMA ANTARA SUKU TIONGHOA DENGAN MELAYU DI KAB BANGKA
Harus diakui, antara Bangka dan masyarakat Tionghoa sudah seperti dua sisi mata uang. Di pulau ini, kelompok masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan tanah setempat selama ratusan tahun. Masyarakat Tionghoa mulai hadir di Pulau Bangka selama periode 1757-1776 atas kehendak Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo, putra Sultan Mahmud Badaruddin II, yang saat itu memimpin Kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama mendatangkan mereka adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan timah sebab warga Tionghoa dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan timah.
Gelombang berikutnya didatangkan lagi para petani, tukang jahit, dan tukang kayu. Kehadiran beragam profesi itu dimaksudkan agar terjalin hubungan yang lebih luas antara warga asal China dan masyarakat setempat. Para warga asal China yang datang ke Bangka saat itu umumnya laki-laki dan tidak membawa keluarga. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun akhirnya memilih bertahan di Bangka dengan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan Melayu di sana.
Jadi, masyarakat Tionghoa di Bangka saat ini merupakan keturunan pribumi dan Melayu. Hubungan persaudaraan dan keharmonisan erat yang terjalin antara masyarakat Tionghoa dan Melayu di Bangka selama ini karena mereka umumnya memiliki garis keturunan yang sama. Dengan adanya asimilasi yang kuat melalui perkawinan itu akhirnya berkembang penyebutan di kalangan masyarakat Bangka, yakni fan ngin, to ngin jit jong, yang berarti ’pribumi, Melayu, dan Tionghoa semuanya sama dan setara’.  Karena itu, hubungan kekeluargaan antarwarga Melayu, Tionghoa, dan pribumi di Bangka tidak lahir secara kebetulan demi menjaga stabilitas wilayah, tetapi karena merasa sebagai satu keluarga besar,
Seorang pegawai kolonial Belanda, Boggart,  pada tahun 1803 pernah berkunjung ke Bangka. Berdasarkan pengamatannya, Boggart mendeskripsikan ada empat kelompok etnis yang hidup di Bangka. Mereka adalah orang melayu dari Johor Siantan (Malaysia), orang Tionghoa, orang laut, dan orang darat atau orang gunung. Orang darat atau gunung merupakan warga pribumi Bangka. Yang belum beragama Islam disebut orang Lom dan yang sudah menganut Islam disebut Selam. Orang darat masih tersisa di daerah Air Abik, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Mereka disebut suku Mapur. Sementara orang laut bertahan di daerah Kedimpel dan Tanjunggunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Mereka adalah komunitas suku Sekak. ”Deskripsi Boggart ini membuktikan adanya kesetaraan Melayu, Tionghoa, dan pribumi di Bangka terjalin sejak ratusan tahun silam,” katanya.


BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan dari permasalah diatas maka dapat ditarik kessimpulan sebagai berikut :

a.       Kerjasama yang terjadi antara tionghoa dan melayu bermula dari kebutuhan warga pribumi akan ketrampilan yang di miliki warga tionghoa
  1. Kerjasama di bidang pertambangan, pertanian dan ekonomi
  2. Dari kerjasama terjadi asimilasi perkawinan sehinggah terjadi kerjasama yang berkesinambungan sampai sekarang
  3. Pembauran yang terjadi yang awalnya kerjasama melahirkan penyesuaian tradisi antara keduanya.

2. SARAN
Setelah menyelesaikan makalah ini maka kami menyarankan sebaiknya pemberian tugas seperti ini dapat diberikan secara bertahap dan berkelanjutan yang dikerjakan secara kelompok yang tidak terlalu besar sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil yang maksimal.






DAFTAR PUSTAKA
 




suparlan, parsudi. 2008. hubungan antar suku bangsa. jakarta; yayasan pengembangan kajian ilmu kepolisian



Tidak ada komentar:

Posting Komentar